Say no to Maria war Teg!!

Contohnya Begini :

Nasihat seorang Jabariah tak akan menggugah Kaum Qodariah. Begitu pula sebaliknya.

Artinya : beda konsep beda nasihat, jika dipaksakan maka hanya berdebat.

Lagian untuk apa sih minta nasihat ke orang lain. PD aja lagi!

Jika kamu yakin bahwa kamu benar, maka lakukanlah itu meski pahit atau bahkan dihujat-hujat. Lakukanlah terus, meski di awal atau di akhir yang kamu yakini itu ternyata terbukti salah. Itu lebih baik karena kamu telah menjadi Manusia yang Berkonsep.

Satu lagi, acara motivasi baik di televisi maupun seminar, semuanya itu hanyalah manipulasi kesadaran manusia yang tujuannya hanya untuk menciptakan permintaan pasar (ketergantungan/adiktif) terhadap kebutuhan motivasi. Padahal manusia diilhami akal untuk berpikir dan memilih, begitu pula hati untuk berlaku bijak. Gunakan Kemanusiaanmu!

(Er)

Iklan

Nasib Matematikawan

Hanya dia wanita yang tertarik dan mau diajak berdiskusi tentang matematika. Tidak ada lagi selain dia. Sementara wanita lain hanya tertarik untuk didongengkan tentang sejarah, diajak memutar otak dengan berfilsafat, digombali dengan sastra picisan, atau dibuai dengan tembang syair bernada. Hanya dia yang antusias dengan sederet angka yang membentuk aljabar, dengan berbagai macam kaidah matematis.

Matematika hanyalah sampah. Memang matematika dapat membuat semua orang takjub, tapi tidak untuk tertarik. Takjub dan tertarik itu berbeda. Orang-orang lebih tertarik membahas hal yang berkata-kata. Sementara kumpulan angka dan rumus hanya membuat orang takjub dan tiada ingin dibahas.

Matematika hanyalah sampah. Toh banyak Pemimpin Negeri yang tak pandai bermatematika. Sementara kaum Matematikawan hanya menjadi babu, jongos, bahkan budak. Karena dulu dengan sekarang jelas berbeda. Jika dahulu kala ahli matematika dan statistik sangat dibutuhkan karena tak ada Software pendukung. Tapi sekarang, bahkan orang yang ketika sekolah dan kuliah hanya menyontek saja, pun bisa menganalisis angka dan data. Tinggal tekan tombol “On” pada kalkulator, maka bilangan logaritma yang rumit pun dapat dipecahkan dalam hitungan sepersekian detik. Atau hidupkan komputer, buka SPSS maka hasil analisis data pun didapatkan, dan selanjutnya giliran merekalah yang membuat perencanaan dan keputusan.

Matematika hanyalah sampah, jadi jangan takut pada matematika, adikku sayang. Bersyukurlah kau masuk kelas IPS dengan disertai takdir dan bakat sebagai siswi IPS. Karena aku percaya hidupmu akan lebih hidup.

(Er)

Kertas

lipatlah aku bagai kertas
gunting aku jika Kau mau
gantung aku sebagai hiasanMu
lempar aku ke tong sampah

coretilah aku dengan kata murkaMu
lukislah aku dengan anugerahMu
pajang aku di tembok kamarMu
robek aku jika Kau muak

aku hanyalah secarik kertas
dan Kaulah Sang Tangan
tulislah aku!

(er)

Surya dan Bulan – Bab 3

Bab 3

Mobil Taxi berwarna biru melaju dengan tenang membelah angin petang bulan desember yang cukup dingin dengan dihiasi awan mendung di angkasa. Tampak Bulan sedang menoleh ke sebuah Rumah berlantai 2 dengan pekarangan yagn dipenuhi oleh rumput-rumput liar di sela batu-batu kerikil kecil. Rumah itu tampak tua dan sangat usang. Bulan jadi teringat kembali ketika dia masih kecil dulu, dia sering sekali memanggil nama seseorang dari pekarangan rumah itu untuk mengajak seseorang itu bermain.

“Surya… Surya… main yuuk.” Suara Bulan terdengar bernada ketika memangil nama itu.

Tiba-tiba muncul sesosok kepala dari jendela kamar lantai 2. “Tunggu aku Bulan. Sebentar lagi aku mendarat.” Surya berkata sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja terbentur kayu kusen jendela.

Ketika Surya baru saja keluar dari pintu rumahnya dan menarik tangan Bulan untuk berlari hingga membuat Bulan jadi kebingungan, sekonyong-konyong terdengar suara seorang Wanita, “Surya… kamu tidak boleh main keluar, kamu harus mengerjakan Peer kamu, eh.”

Tapi Bulan dan Surya terus berlari menuju ke arah Pemakaman, tempat mereka suka bercerita sambil melihat Layang-layang yang sedang menari-nari tertiup angin di angkasa.

“Maaf, Bu. Setelah ini kita ambil ke arah mana, ya?” Tanya Sopir Taxi memutus Nostalgia singkatnya Bulan.

“Eh kira-kira..” Bulan mencoba untuk mengingat rute jalan ke rumah Pamannya yang sudah lama tak dikunjunginya semenjak kepergiannya ke Amerika. “Di perempatan jalan yang di depan sana, kita belok kiri, ya, pak. Setelah itu lurus terus, yaa, kira-kira sekitar 1 Km lagi jaraknya, Pak. Tempatnya di dalam Komplek Cakra Birawa.”

Bulan berharap instruksinya ke Sopir Taxi tidaklah salah, karena seingatnya, ketika ia kecil dulu ia jarang sekali berkunjung ke Komplek tersebut karena hanya orang tertentu saja yang boleh menginjakkan kaki di sana. Salah satu rumah di Di Komplek Cakra Birawa memang tempat tinggal Pamannya. Namun, ketika Bulan masih kecil, Pamannya tidak pernah mengisi rumah itu karena Pamannya terlalu sibuk dalam pekerjaannya. Bahkan Pertemuan Bulan dengan Pamannya saja dapat dihitung, salah satunya ketika Pamannya sedang memberikan pelatihan ‘Teknik Deduksi dalam Analisis Konspirasi Kriminal’ di University of California at Barkeley, USA.

“Harap tunjukkan Tanda Pengenal dan Surat Izin memasuki kawasan ini anda.” Berkata seseorang Pria yang mengenakan Pakaian Tentara berwarna hijau sambil menenteng sebuah Senapan Berlaras Ganda.

“Maaf, kalau Tanda Pengenal saya punya, namun kalau Surat Izin berkunjung, saya tidak punya.” Berkata Bulan dan kemudian berbicara kembali, “Saya datang ke sini untuk menemui Pak Dafirus.”

“Tunggu sebentar, saya akan coba untuk menghubungi beliau. Dan nama anda?”

“Bulan, Dewi Bulan.”

Tentara yang menjadi penjaga gerbang komplek itu pun mulai berbicara pada Wakie Talkienya. Beberapa saat kemudian Tentara itu mulai bicara kembali kepada Bulan. “Nona Bulan, Tuan Dafirus sudah mengkonfirmasi saya untuk mengijinkan anda masuk dan meminta Pengawal untuk mengantarkan anda ke tempat kediaman Tuan Dafirus.”

Setelah Bulan turun dari Taxi dan membayar ongkos argonya, Taxi itu pun pergi dan Mobil Hummer berwarna hitam datang menggantikan Taxi itu untuk mengantarkan Bulan ke Rumah Pamannya.

Pemandangan di dalam Komplek Cakra Birawa sangat bernuansa Militer. Ketika Mobil Hummernya melaju melewati Barisan Tentara yang sedang berjalan dengan merayap sambil dibentak oleh seseorang yang terus memerintah dengan keras, dia dapat mendengar suara desingan Senapan para Tentara yang sedang latihan menembak yang terus menggema, dan bersaing dengan hiruk pikuk deru angin yang menerpa Pepohonan Beringin di sepanjang jalan.

Pamannya Bulan, Dafirus, memang bukan seorang Perwira Tentara. Namun, Dafirus memiliki suatu Jabatan yang dapat dikatakan sangatlah penting di dalam Aliansi Pertahanan Nasional seperti Militer. Dafirus adalah seorang Ketua dari Aliansi Intelijen Kriminal Indonesia atau yang biasa disingkat dengan sebutan, AIKI.

AIKI merupakan suatu Aliansi Pertahanan Nasional yang tugasnya adalah untuk mencari Informasi Rahasia yang sangat penting tentang Tindak Kejahatan yang dapat membahayakan Negara, seperti ; Teror, Konspirasi Mafia, Konspirasi Kriminal dalam Pemerintahan, Bisnis Narkoba, Bahkan Mata-mata dari Aliansi Intelijen Negara lain yang berusaha untuk menguak rahasia terpenting milik negara.

 

Bersambung…
(Er)

Surya dan Bulan – Bab 2

Bab 2

“Surya, sebentar lagi tahun baru. Aku ingin deh bisa melihat kembang api dari sini.” Bulan memulai percakapan saat sedang menatapi hamparan langit luas di sore itu yang memayungi pemandangan indah bukit dan persawahan dari ujung dataran tinggi Pemakaman.

“Aku juga ingin. Tapi pasti kita tak diijinkan untuk keluar melihat kembang api di sini. Sudah tempatnya di Pemakaman terus malam pula lagi. Hmm kamu tahulah bagaimana orang tua kita. Pasti mereka akan melarang kita.”

“Iya ya… kenapa sih jadi anak kecil itu tak bisa bebas, selalu saja diatur-atur, tak boleh inilah, tak boleh itulah.” Bulan menggerutu.

“Entahlah, mungkin karena orang tua kita khawatir pada kita.” Sambil mengupil, Surya berkata pada Bulan.

Tiba-tiba dari kejauhan datanglah Komte yang lari terbirit-birit sambil memanggil-manggil Surya.

“Surya… Surya…” Teriak Komte.

“Kenapa sih Komte, eh?” Surya masih asyik mengupil sementara Bulan tampak terkejut.

“Gggg.. gaaga..wawaaat… GAWAAAAAT.” Kegagapan Komte ketika berbicara bahkan dapat mengalahkan guncangan jantungnya yang berdebar-debar karena panik.

“Kamu kenapa, Komte? Coba tarik nafasmu dulu, lalu hembuskan, dan bicaralah dengan tenang.” Bulan mencoba menenangkan Komte.

“Iya nih, kebiasaan nih si Komte. Dibawa santai saja kawan, jangan panikkan seperti itu.” Surya sedang memilin-milin kotoran hidungnya yang berhasil ia dapatkan setelah bersusah payah mengorek-ngorek hidungnya dengan jari kelinggkingnya hingga dalam.

“huh.. huh huh… hu..” Komte masih terengah-engah sambil berusaha mengatur pernafasannya.

Lalu Komte mulai kembali mengutarakan kabar yang ingin ia sampaikan pada Surya. “Gggg…Gerhaen, Surya…. Gerhaen.. Gerhaen sedang dipukuli anak-anak Dekoplak.

“Aaapppaaaa?” Kali ini Surya yang tampak terbata-bata. Bulan terkejut hingga menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. “Dimana dia sekarang?”

“Di sana di kebon kesong sampin Apotik Pak Mahmud.” Mungkin karena keder hingga lupa arah Komte memberi tahu Surya sambil menunjuk-nunjuk ke arah yang tak jelas rimbanya.

Surya segera lekas bangkit berdiri dan berlari tergesa-gesa dengan wajah penuh murka, diikiuti oleh Komte dan Bulan. Wajar bila Surya begitu murka karena dia tak dapat menerima temanbaiknya dipukuli oleh genk Dekoplak.

Sewaktu dia sedang berlari, tiba-tiba ia berpapasan dengan Galaska yang baru saja keluar dari rumahnya dengan wajah masih terkantuk-kantuk karena baru saja bangun tidur.

“Hey, lagi mengejar layangan putus, ya?” Sambil menguap, Galaska menyapa Surya, Komte, dan Bulan.

“Gerhaen dikeroyok Dekoplak.” Jawab Surya yang masih terus berlari. Mendengar itu, Galaska langsung berlari mengikuti yang lainnya.

“Kurang ajar. Di mana Gerhaen sekarang?” Tanya Galaska yang dalam sekejap sudah berlari sejajar dengan Surya.

“Kebon Kosong.” Jawab Surya, Komte, dan Bulan secara bersamaan.

Setibanya mereka di Kebon Kosong, mereka melihat Gerhaen sedang tergeletak di tanah sambil mengerung kesakitan.

“Gerhaen, kamu tak apa-apakan?” Surya langsung merangkul Gerhaen ke pangkuannya.

“SAAAAKKKIIITT.” Raung Gerhaen menahan sakit.

Surya langsung berlari menuju gerombolan Dekoplak yang masih belum jauh berjalan setelah puas memukuli Gerhaen sampai babak belur.

“Woi Pecundang, beraninya ya main keroyokan. Maju sini kalian,eh.” Gerang surya berteriak sesampainya ditengah-tengah Kebon Kosong, Galaska dan Komte segera berada di samping kanan dan samping kiri Surya. Bulan yang tampak panik ketika melihat Gerhaen yang terluka, kini menjadi sangat takut, karena firasatnya merasa tak enak.

Gerombolan Dekoplak segera berbalik arah menuju Surya dan Debegenk yang sedang berdiri menantang. Seperti dua kesebelasan Tim Sepak Bola yang berdiri berhadap-hadapan saat hendak bertanding, mereka pun saling menatap dengan tatapan yang penuh amarah.

“Berani-beraninya ya kalian mengusik teman kami, eh!” Surya memulai

Metreo, seorang pentolan dari Dekoplak membuang ludah ke tanah dan dengan congkaknya ia pun menjawab, “Ya berani dong. Ngapain juga takut sama pecundang.” Dengan penuh rasa puas, anggota kelompok Dekoplak yang lainnya, Satbi, Piter, dan Gunrut pun tertawa penuh kemenangan.

Kesal mendapat tanggapan yang seperti itu, Surya pun langsung memukul Metreo tepat di perutnya. Setelah melihat Metreo yang jatuh tunduk sambil memegangi perutnya, Satbi yang bertubuh kurus mencoba untuk memukul Surya. Namun sebelum itu terjadi Galaska sudah terlebih dahulu menendang Satbi hingga ia terpental jauh. Gunrut yang bertubuh gemuk layaknya seorang pesumo langsung menangkap tubuh Galaska yang kurus dan menindihnya di tanah. Komte yang juga bertubuh seukuran dengan Gunrut, menarik Gunrut, dan seperti membuang tisu ke tong sampah, Komte membanting Gunrut hingga terpental. Piter yang sedari tadi memutar-mutar Double Sticknya, langsung menghantam Komte hingga mengenai pundaknya. Galaska langsung menghantam kepala Piter dengan kepalanya sendiri. Empat orang dari Dekoplak melawan tiga orang dari Debegenk. Pertempuran pun tak dapat dihindari.

Komte masih bergulat dengan Gunrut, mereka berguling-guling di tanah sambil saling mencekik leher satu sama lain. Ketika posisi Komte berada di bawah Gunrut, ditindih dengan besarnya badan Gunrut yang super berat, sekonyong-konyong Gunrut melemparkan bogem mentahnya secara telak ke arah perut nya Komte hingga cairan dari dalam perut Komte muntah keluar dari mulutnya.

Sementara itu Piter yang terus menghantam Galaska dengan Double Sticknya, telah membuat kepala Galaska berdarah darah. Begitu pula dengan wajah Piter yang memar dan hidungnya yang mengeluarkan darah karena terkena pukulan bertubi-tubi dari Galaska. “Double Stick cuma senjata Pecundang yang tak bakal menang melawan Jagoan.”  Dengan gerangnya dan terus sambil memukul, Galaska tak hentinya memberi pukulan pada Piter. Gunrut yang baru saja menyelesaikan urusannya dengan Komte langsung berlari ke arah Galaska dan menghantam punggungnya Galaska dari belakang hingga Galaska terjatuh tak dapat bangkit lagi.

Komte yang sempat mengerang tak berdaya setelah dihajar habis-habisan oleh Gunrut, langsung terbangkit saat melihat teman-temannya sedang tak berdaya. Sambil menahan rasa sakit, dia menghantam kepala bagian belakangnya Gunrut dengan kepalan tangannya, setelah itu Komte pun langsung melakukan tinju ke arah dagunya Gunrut hingga ia jatuh terjengkang pingsan. Dan Piter mencoba menyerang Komte dengan Double Sticknya, namun berhasil ditangkap oleh Komte. Sekonyong-konyong, Piter langsung kabur terbirit-birit saat melihat Komte sedang memuta-mutarkan Double Stiknya Piter yang kini berada di tangannya Komte.

“Tak ada kata ampun… rasakan pukulan ini.” Surya terus memukuli Metreo. Dari arah belakang Satbi menendang Surya hingga Surya terjatuh dan diinjak-injak oleh Satbi dan Metreo. Bulan mencoba melerai Satbi dan Metreo sewaktu terus menginjak-injak Surya, namun Bulan tak sengaja terkena kebasan tangannya Metreo hingga Bulan terpental dan terjatuh hingga keningnya membentur sebuah bongkahan batu besar yang keras dan sisi-sisinya tak rata.

Melihat Bulan terjatuh, Surya semakin murka. Surya menagkap kaki Metero yang terus menginjak-injaknya, lalu memelintir kaki Metreo dan mendorongnya hingga Metroe terjatuh duduk di tanah. Tapi sayangnya, Satbi menendang kepalanya Surya hingga Surya benar-benar tak berdaya. Akhirnya Satbi dan Metreo kembali menginjak-injak tubuh kurus keringnya Surya dengan semakin menjadi-jadi. Bulan kembali bangkit dan mencoba untuk melerai kembali, namun apa daya guna, ia tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan keberutalan Dekoplak.

Komte kini berlari ke arah di mana Surya sedang disiksa dengan sadis oleh Metreo dan Satbi. Baru saja Komte hendak untuk membantu Surya, tiba-tiba Pak Mahmud, si pemilik Apotik datang dengan membawa serombongan orang. Sekonyong-konyong, Metreo dan Satbi pun pergi berlari meninggalkan Surya yang tak berdaya terjerambap di tanah.

Pak Mahmud dan rombongannya langsung menghampiri Surya beserta kelompok Debegenk lainnya yang terluka dan membawa mereka ke Apotiknya. Di dalam Apotik Surya dan yang lainnya yang sama-sama terluka diobati oleh Pak Mahmud. Bulan yang di keningnya terdapat luka menolak untuk diobati lebih dahulu, dan meminta Pak Mahmud untuk terlebih dahulu mengobati Surya. Sementara di sana juga tampak Galaska yang menahan rasa sakit dengan ketenangannya yang dingin sambil menatap kawanannya sewaktu Kepala Galaska sedang diperban oleh seorang Apoteker yang lainnya. Komte tampak sedang menangisi Gerhaen yang sudah lama pingsan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melampiaskan amarahnya pada Gunrut, satu-satunya anggota Dekoplak yang kini tersisa dalam perawatan para Apoteker  di Apotik Pak Mahmud.

Ketika Pesawat Terbang yang melintasi awan senja dan hendak mendarat di Bandara, tiba-tiba Bulan tersadar dari tidur setengah pulasnya yang memimpikan kembali kejadian yang pernah ia alami dulu. Dari kaca Pesawat Terbang yang secara samar menampilkan pantulan wajahnya sendiri, ia dapat melihat bekas luka di keningnya yang sudah lama tergores dan menjadi satu kenangan.

Setelah sekian lama meninggalkan Indonesia dari sejak ia menginjak usia dua belas tahun untuk menuntut ilmu dan bekerja di suatu Dinas Intelijen di Amerika Serikat, kini merupakan kali pertamanya ia kembali ke Indonesia.

 

Bersambung…
(Er)